Sedang mengalami syndrome sendiri dengan sebuah pertanyaan kenapa? memenuhi batin. Sedikit menyiksa hati karena bahkan diri sendiri pun tidak mengerti apa mau hati untuk pertanyaan ini. Harusnya aku memahami hatiku lebih dari siapapun yang ada di lingkaran hidup. Campuran rasa hampa,penat,resah,geregetan meresap ke otak dengan sukses. Aku pun jarang sukses bertanya dengan diri sendiri, mungkin lebih tepatnya enggan peduli atas jawaban hati. Kenapa? kali ini bukan pertanyaan baru yang muncul dari dalam diri, sebaliknya seperti cameo yang lalu lalang dalam pikiran. Sebuah pertanyaan kenapa? justru memunculkan pertanyaan lain yang terus berentet dan semakin menghadirkan ketidaknyaman. Aku butuh pikiran jernih tanpa embel-embel emosi, tapi perasaan juga tidak bisa dihilangin begitu aja kan?. Apa hanya logika saja yang harus dipakai?atau justru membiarkan perasaan yang bermain sepenuhnya?
Ada hati yang bermain, kenangan yang terbentuk tapi disisi lain kenyataan justru ada di sisi yang berlawanan. Pertanyaan kenapa? sepertinya langsung mengkoneksikan diriku ke masa depan dan itu yang buat diriku ragu..takut..tidak yakin..resah untuk semua pilihan jawaban yang tersedia.
"Aku percaya tidak akan ada kesulitan mencari jarum di dalam setumpuk jerami. Aku hanya sedang mempertimbangkan haruskah kuteruskan pencarianku atau kuhentikan sampai disini"
Privat Room, July 2011

No comments:
Post a Comment