Kalau tidak ada kejadian ini, mungkin tadi pagi aku masih bisa menikmati kasur dengan tenang dan baru menyatu dengan dunia jam sepuluh atau sebelas siang. Tertidur sekitar jam stengah dua dinihari dan terpaksa bangun karena telpon dari mama jam setengah tujuh pagi. Bakalan kena omel kalo tau anak perempuannya jam setengah delapan WITA baru bangun tidur. Dampak baiknya adalah aku bisa bangun jauh lebih pagi karena kejadian ini, walaupun hati ngerasa pahit banget. Mandang langit-langit kamar selama beberapa menit, hal yang hampir tidak pernah aku lakukan selama ini. Beralih ngeliatin dinding kamar, mencari jawaban atau lebih tepatnya obat yang bisa menetralkan rasa pahit ini. Sebenarnya aku hanya ingin menggambarkan betapa terlukanya aku dengan semua tentang ini, aku menangis berharap di saat air mataku berhenti, hilang pula rasa pahit yang aku rasakan. Sebaliknya justru kejadian kemaren dan semua kenangan seperti slide yang terus menerus berputar di otakku.
***
"Kita gak usah berhubungan lagi, karena hanya akan nyakitin kita berdua" kata-katanya seperti lagu yang terus berputar di kepalaku. Bagaimana bisa segampang itu? apa dia pikir perasaanku tidak bereaksi mendengar semua yang dia ucapkan? Aku dulunya berpikir menara impian yang kami bangun selama beberapa tahun ini tidak akan mudah oleng oleh angin bahkan sekalipun besarnya angin tidak akan sampai meruntuhkan semuanya, tapi lagi-lagi itu hanya sampai di pikiranku. Masalah sepele yang sering terjadi tanpa sadar mengeruk pondasi menara kami hingga akhirnya angin kecil lah yang justru merobohkannya, hanya perlu 1 menit dan semuanya selesai. Hebat bukan?
Tidak ada lagi namanya, tidak ada lagi suaranya, tidak ada lagi obrolan malam, TIDAK ADA YANG PERLU DISESALI, yang ada hanya hati yang membeku bahkan enam missed call dari dia tidak kugubris siang ini karena aku tahu menerima teleponnya sama saja menambah sebuah rasa pahit yang tak terkira. Dia tidak bisa menjaga hatiku lagi dan akulah yang harus menjaga hatiku sendiri saat ini dan untuk kedepannya. Aku tidak bisa menyangkal besarnya cintaku untuk dia, aku belum bisa menyakiti diriku dengan memaksakan hati untuk mematikan perasaan yang begitu dalam yang kupunya untuk dia, sebaliknya yang bisa kulakukan sekarang adalah menelan semua rasa pahit ini, menjalani hari sambil belajar untuk menghadirkan rasa manis untuk diri sendiri.****
-Ruang Hati-
No comments:
Post a Comment