-SELALU ADA TEMPAT UNTUK SEBUAH CORETAN ASAM MANIS HIDUP-

Friday, July 8, 2011

Realita Pertemanan


Kata-kata ini tanpa sengaja bikin saya berpikir. Apa yang bisa ditangkap dari 2 buah kata ini? entah itu sebuah realita positif atau negatifnya. Mari mengintip dari kacamata saya.

Temen kecil, teman esde, temen esempe,esem-a,kuliah,temen main, dan jenis teman yang lain. Banyak orang bilang lebih baik gak punya pacar daripada gak punya teman. tapi...teman yang gimana dulu! Realita atau kenyataan terkadang bisa jauh dari yang namanya harapan. Saat kita memiliki hubungan pertemanan yang erat dan begitu memuja apa yang di dalamnya kita lalui dengan orang-orang yang kita anggap soulmate; otak yang udah nyinkron satu dengan yang lain, seolah bisa membaca apa yang ada di pikiran temen lain kalo' liat sesuatu yang aneh; dan menganggap beruntung ada di tengah-tengah standar pemikiran yang tinggi dari pertemanan ini, secara natural kita membangun harapan terhadap individu-individu yang ada dalam kelompok kita. Yang kita tidak sadar terkadang kita hanya mencocokkan kesamaan kita, standar pemikiran kita tanpa melihat kelemahan dari karakter teman-teman kita ini. Dan menurut saya disinilah sering muncul ungkapan realita pertemanan. 

"Ternyata dia orangnya nyimpenan yaa.", "Aku pikir orangnya easy going lho.."; "Aduh..anaknya marah gak yaa gara-gara aku lupa ngasih tau?" Kalimat-kalimat "terkejut-standar" ini sering kita dengar atau bahkan ucapkan. Dan dari kalimat inilah terbuka penilaian pribadi untuk individu yang kita anggap "klik" sama kita. Sejauh mana kita bisa memahami karakter seutuhnya untuk seorang teman? Seberapa dalam kita bisa mengerti dan menilai karakter teman kita? Seberapa sering kita berkompromi atau memaklumi tingkah laku-pola seorang teman?

Realita pertemanan dalam hidup saya saat ini terlihat lebih nyata dalam kehidupan kuliah saya. si wege yang pinter, punya banyak mimpi tapi selengekan juga, atau si beye yang idealis, ambisius dan sama selengekannya kaya wege, lain lagi si y-ri yang sedikit tertutup,selengekan,kurang pede sama dirinya, atau si depe yang easy going dan selalu terlihat baikbaik saja menurut saya. Ditambah lagi si btty, teman cewe yang punya karakter keibuan, dan terbuka untuk bercerita, atau si emms yang ceplas ceplos plus centil dan belum lagi ditambah saya yang sedikit tertutup dan cerewet. Tidak mudah membangun sebuah chemistry dalam pertemanan, buat saya lebih mudah membangun chemistry dengan pacar karena kita belajar menerima karakter dari satu individu. Perlu waktu yang lama memahami dan menyelami karakter masing-masing dari mereka. Awalnya hanya karna dari almamater yang sama dan sering satu kelas, awalnya hanya membicarakan tugas. Realita yang ingin saya tunjukkan adalah terkadang satu dari kami atau bahkan saya lupa meneruskan informasi, seolah saya atau mereka gak melihat kalo kita berteman dekat. Realitanya adalah kadang saya atau mereka tidak bisa memahami pikiran mereka dan tanpa sadar lebih dekat dengan satu atau dua orang dibanding yang lainnya. Realitanya adalah tidak selamanya mereka juga mengerti kalo saya lagi ingin berbagi atau perasaan saya lagi sedih, apalagi untuk teman cowo. Realitanya adalah saya atau mereka kadang jengkel dan menyimpan itu dalam hati atau bahkan menulis di status kami masing-masing.

Kalau saya hanya membuat diri saya menerima realita yang kurang menyenangkan ini, saya tidak akan punya sebuah pertemanan. Padahal ada banyak realita menyenangkan lainnya yang saya dan mereka dapatkan. Realitanya kami bisa tertawa lepas dengan salah satu banyolan dari teman kami, kami bisa saling menciptakan lirikan, senyuman, atau tatapan mata sebagai kode kami untuk hal-hal rahasia, kami bisa saling mengolok dan percaya tidak ada yang bakal tersinggung dengan itu, dan tanpa kami sadari kami sedikit berkompromi untuk setiap karakter yang ada dalam lingkaran pertemanan ini.  

Hidup tidak selamanya indah. Pertemanan tidak selamanya lancar. Hal-hal yang ada di dunia ini tidak pernah bisa lepas dari yang namanya suka dan duka. Ada waktunya kita harus minta maaf dan ada waktunya kita harus memaafkan. Dan inilah realita.

"jika satu realita tidak menyenangkan mempengaruhi diri kita, akan mengubur 1000 realita menyenangkan yang kita miliki. Apa yang kita dapat?"





No comments:

Post a Comment